Menjadi Wirausaha Kuat Layaknya Ayam Kampung Yang Tidak Kampungan

Menjadi Wirausaha Kuat Layaknya Ayam Kampung  Yang Tidak Kampungan - Menjadi seorang wirausaha adalah sebuah pilihan. Bisa pilihan dari hati atau memang sebenarnya karena keterpaksaan. Nah, mengapa bisa disebut keterpaksaan? Jawabannya, bisa karena harus dipaksa atau harus terpaksa masuk di dunia bisnis, apakah karena meneruskan bisnis orang tua yang sudah tidak ada penerus lagi untuk mengelola sehingga sebagai anak harus turun tangan sebagai pembuktian berbakti kepada orang tua atau yang lebih ekstrem karena tidak ada lagi pekerjaan sehingga harus berusaha untuk mendapatkan penghasilan.

Pada diskusi dan perbincangan kali ini, saya akan membicarakan tentang point terakhir di atas. Kondisinya pun sepertinya sama kawan, seperti tadi malam saat saya mampir di sebuah warung kopi milik teman kecil semasa SD dulu yang kebetulan warung kopinya ini baru saja dibuka. Saya pun dengan santai memesan secangkir kopi, ya hanya secangkir kopi hitam kental ditambah sebungkus nasi untuk mengganjal perut, saya pun masuk di ruangan pojok, karena kebetulan sekalian menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan tidak beberapa lama, pesanan pun datang, dan saat itu memang pengunjung pun tidak terlalu banyak malam ini, yang ada hanya beberapa anak muda yang ngopi sambil bermain internet sehingga kawan ini pun ngobrol dengan saya. Singkat kata, sebenarnya dia membuka usaha ini pun karena dia terkena PHK ditempat dia bekerja, dan yang lebih heboh lagi, PHK ini pun bisa dikatakan mendadak. Saya pun tidak menanyakan alasannya kenapa terkena PHK, namun yang pasti, kondisi menjadi wirausaha seperti di atas bisa saja terjadi karena faktor kepepet.

Waw...ngobrol makin dalam. Akhirnya, memang dalam kondisi bingung atau pun kalut, dia pun memutuskan untuk membuka warung kopi yang kebetulan dibuka didepan rumah, dengan konsep sederhana, lesehan di beranda rumah dan ruang tamu rumah, ya memang masih dalam skala kecil namun saya acungkan jempol, karena dia sudah berani untuk membuka usaha walaupun kalau dihitung dari skala pendapatan masih jauh dengan gaji yang dia dapat. Memang sih yang dijual hanya beberapa jenis kopi instan dan mie instan namun kalau volume yang dijual  banyak, hasilnya juga lumayan.

Dari beberapa pembicaraan dengan kawan tadi, saya bisa menangkap maksudnya juga bahwa dia ingin mengembangkan dan merenovasi warung yang ada saat ini dengan konsep yang lebih bagus. Dan dia pun dengan bersemangat menjelaskan ide dan rencananya. Saya pun hanya mendengarkan dan tentang rencana tersebut.

Saya pun bertanya satu hal kecil yang agak berat untuk dijawab. Bro, modal dananya darimana???

Nah, kalau ditanya yang satu itu pasti susah menjawabnya. Okelah, sebenarnya selain dana, masih ada modal lain yang sudah menjadi nilai plus dalam keberanian membuka usaha sendiri, selain niat dan persiapan yang matang walaupun modal dalam bentuk dana masih sedikit. Satu lagi yang sangat penting yaitu keyakinan atas pertolongan Sang Pencipta - Alloh SWT yang membantu kita sampai dengan terbukanya usaha tersebut.

Dari pertanyaan saya tersebut, kawan pun menjawab, “Ya gimana, mungkin salah satunya dengan berhutang, apakah nanti hutang ke saudara atau yang lain, kalau kepepet mungkin pinjam uang bank mas”.

Tidak lama, saya pun berbicara, kita harusnya bersyukur dengan kondisi yang ada sekarang. Kita diberikan amanat untuk membuka usaha walaupun itu masih kecil. Memang jalan setiap orang berbeda-beda, bisa karena di PHK atau memang secara ikhlas keluar dari pekerjaannya karena niat di hati. Untuk masalah yang tadi tentang rencana berhutang, alangkah sebaiknya ditunda dulu. Karena kita harusnya sudah berhitung sampai sejauh apa sih bisnis kita sehingga harus menambah dana dan dengan menambah dana apakah bisa berbanding lurus dengan pemasukan.

Mari kita cintai prosesnya bro. Sekali lagi “proses”, dengan bisnis yang baru dibuka ini, alangkah indahnya kalau kita bisa mengawal mulai dari yang sederhana ini. Kalau bahasa Jawa-nya “mlaku timik-timik luwih becik, tinimbang mlayu banter tapi ngipi” (maksudnya: berjalan sedikit demi sedikit lebih bagus, daripada berlari kencang tapi mimpi).

Kekokohan Bisnis

Diskusi pun masih berlanjut,yang akhirnya kami bersama-sama melihat video tentang belajar bisnis, dari Kang Rendy Saputra, CEO dari Keke Busana. Diskusi tersebut membahas tentang bisnis yang dianalogikan seperti ayam. Namun ayam yang dimaksud ada 2 jenis yaitu ayam kampung dan ayam broiler (ayam potong).

Oh ya, bahan diskusi dari Kang Rendy ini benar-benar tidak membahas tentang riba dan riba ini bukan hot issue yang dibahas disini. Isu yang dibahas adalah “kekokohan bisnis”.

Nah menurut Kang Rendy, kalau isunya tentang riba, dikhawatirkan kalau ada yang mengaku syariah, tentunya pinjaman dengan label syariah akan di ambil juga. Makanya isu yang akan didiskusikan adalah “kokoh”, apakah bisnis kita itu sekarang sudah kokoh atau belum?

Kekokohan Bisnis;Menjadi Wirausaha Kuat Layaknya Ayam Kampung  Yang Tidak Kampungan


Ayam broiler ini butuh waktu 3 sampai 4 minggu untuk mencapai berat yang ideal 1½ kg. Sedangkan ayam kampung butuh 40 sampai dengan 60 minggu untuk mencapai berat 1½ kg.

Di lapangan, ayam broiler ini misalnya ada petir, ayam ini akan stress, ada yang mati dan rapuh. Apalagi dalam perjalanan panjang untuk dikirim ke tempat tujuan ketumpuk-tumpuk satu dengan yang lain pun bisa mati dan bad mood saja dia bisa mati.

Baca juga: Menjadi Entrepreneur.

Berbeda dengan ayam kampung, mendengar suara petir dan segala macamnya masih bisa survive, karena ayam kampung ini tumbuh secara organik, ayam ini mencari makan sendiri, mematu-matuk makanannya di tanah, dan kalau ada petir pun dia cukup berteduh di bawah pohon, begitu hujan reda, dia keluar dan segar lagi.

Nah disini menurut Kang Rendy, banyak bisnis yang masuk kategori sebagai ayam broiler karena dipaksa besar dengan cepat, dipaksa besar dengan utang, disuntik ini dan itu maka bisnis ini “besar” tapi rapuh, dan ketika market tidak jalan, sales-nya kurang, akhirnya capek untuk mencicil atau membayar angsuran, akhirnya dia mati.

Berbeda dengan bisnis model ayam kampung, bisnis ayam kampung itu adalah bisnis yang menabung profit terus menerus, memang lama dan akhirnya bisnis model ini kuat dan kokoh. Mau market atau pasar turun, mau market tegak, bisnis ini tetap berdiri kokoh. Kalau pun marketnya tidak ada ya sudah, tidak apa-apa.

Contoh yang sangat mudah, yang terjadi selama ini, bisnis alat berat yang modalnya dari hutang. Karena berhutang, ketika batubara trendnya sedang jatuh, akhirnya alat berat itu pun tidak terpakai, yang ujung-ujungnya bingung untuk mencicil.

Kang Rendy juga mencontohkan tentang kawannya yang memiliki 2 alat berat, tapi alat beratnya waktu beli cash. Begitu batubara tidak jalan atau batubara sedang mengalami trend penurunan harga, alat beratnya duduk manis di garasi, berzikir, tidak terganggu oleh apa pun, karena alat berat itu dibayar atau dibeli dengan cara “cash”. Dari alat berat yang sederhana, menabung profit, memang membutuhkan waktu yang lama tapi bisnisnya kokoh.

Sama dengan yang disampaikan Dewa Eka Prayoga, sebenarnya kita tidak usah dan tidak perlu gegap gempita, kalau bisa kita punya kos-kosan belinya pun cash.

Ini dia “arus finansial bisnis” sejati, dan saya sangat sepakat dengan arus finansial ini.

arus finansial bisnis


Dari alur diatas dapat diketahui bahwa dari modal kerja (bisa berupa barang atau alat), modal kerja ini akan berputar menjadi sales atau penjualan, dari Sales menjadi COGS atau bisa disebut HPP (Harga Pokok Penjualan), dari COGS ini kemudian menjadi Gross Profit, dari Gross Profit menjadi OPS, OPS ini akan menjadi Net Profit.

Nah, kalau misalnya kita disuntik atau diinject dana dari “IF” atau Institusi Finansial, maka dari OPS akan terjadi penambahan biaya yang digambarkan sebagai berikut;

arus finansial bisnis


Apabila usaha kita disuntik dana dari Institusi Finanasial maka Operasional akan lelah karena dana yang ada digunakan untuk memcicil atau untuk membayar bungan dan beban yang ada di pos biaya operasional. Sehingga Net Profit akan tertekan (terlalu di push dan hal ini mengakibatkan terjadinya kebocoran dipos biaya operasional).

Saat ini banyak UKM, yang hanya menyelamatkan nafas cicilan bulan demi bulan. Dan inilah masalahnya dan hal ini yang menjadi jebakan dalam pikiran. Misalnya punya target cicilan sebesar Rp. 8 juta, maka otak kita akan terkunci, yang penting Rp. 8 juta selamat dulu.
Berbeda kalau tidak memiliki cicilan sama sekali, otak kita akan bebas. Nah begitu tagihan Rp. 8 juta ini tidak terbayar, hal ini akan merusak flow, galau...

Baca juga: Coach dalam Bisnis.

Begitu galau kita tidak bisa memperhatikan “value” di produk. Apalagi kalau sudah mulai ditagih debt collector, didesak terus menerus, akhirnya lupa akan kualitas,  lupa akan pelayanan, lupa akan konsep produk dan seterusnya. Begitu lupa maka sales akan turun.

So, seperti yang dikemukakan di atas, maka cicilan ini adalah setan di UKM (Usaha Kecil Menengah), karena mengalami kebocoran di OPS. Begitu cicilan tidak terkejar, maka terpaksa menggunakan short term debt (hutang jangka pendek), ambil cicilan yang bunganya 5% perbulan, cicilan yang bunganya 3% per bulan, cicilan 8% perbulan, cicilan yang 10% perbulan.

Contohnya kalau bergerak di bisnis catering, lupa akan kualitas nasi, lupa akan kualitas masakan. Kalau bergerak dibidang bimbingan belajar, lupa akan kualitas guru, lupa akan kualitas bahan pengajaran dan lain-lain.

Di grup bisnis milik Kang Rendy yang bergerak di bidang fashion, apabila trend bisnis mengalami penurunan, ya bisnisnya tidak goyang, karena hampir 60% lebih adalah modal sendiri, dan meskipun turun ya tidak apa-apa.

Dalam perjalanan bisnis, yang terjadi pada beberapa orang yang mengandalkan suntikan modal atau dana lebaga finansial, pada saat bisnisnya turun, cicilan atas pinjaman pun tetap jalan. Berbeda dengan usaha sendiri yang tidak memiliki kewajiban di lembaga finansial, jadi kalau misalnya usaha fashion, ketika pasar turun, ya sudah, karena kain milik sendiri, kain tinggal disimpan dan hal ini tidak begitu masalah.

Jdi menurut Kang Rendy, ”Mulailah untuk berpikir lambat tapi kuat”, yang perlu selalu untuk dibenamkan dalam benak kita adalah “keberlangsungan yang kuat”  sehingga bagaimana caranya bisnis yang kita miliki bisa bertahan atau survive terus.

Ini yang saya sangat suka dengan statement Kang Rendy, ada perbedaan yang sangat besar antara “Besar Cepat” dengan “Besar Sunnatulloh”. Apa bedanya?. Dianalogikan sebagai berikut, ayam broiler umur 40 minggu agar cepat besar, maka ayam broiler ini disuntik ini dan itu, dan kalau dikondisikan dengan kondisi saat ini seperti orang yang tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri, hatinya masih PAUD (pendidikan anak usia dini) namun badannya anak kuliahan, artinya fisiknya melampaui jiwanya.

Kesimpulannya, kalau memang sudah bulat untuk memilih jalan bisnis yang kokoh seperti yang disampaikan dalam melek finansial di atas maka satu hal yang bisa kita lakukan adalah tidak mengambil atau meminta pinjaman, sehingga biarkan bisnis yang kita jalani benar-benar naik secara alami.

Kesimpulan
Belajar bisnis kali ini memang sungguh sangat menarik, dan permasalahan modal menjadi masalah bagi semua calon wirausaha dan wirausaha yang sudah bergerak dan memulainya dari modal yang tidak besar.

Memulai bisnis dan menikmati prosesnya dengan proses yang alami sungguh sangat luar basa, misalnya memulainya dengan modal Rp. 50 juta dan sekarang menjadi besar. Hal ini akan menjadi kebanggan bagi kita, karena memulainya dari hasil keringat sendiri tanpa bantuan siapa pun.

Share

Belum ada Komentar untuk "Menjadi Wirausaha Kuat Layaknya Ayam Kampung Yang Tidak Kampungan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel