Jiwa Bisnis Ibu dan “Mami Pia and Cookies”

Memiliki usaha sendiri, pasti menjadi sebuah harapan bagi anda yang saat ini masih bekerja menjadi seorang karyawan, atau anda yang berharap ingin memperbesar usaha yang telah anda dirintis. Memang semua bergantung dari cara memandang, namun melihat itu semua rasanya kita perlu belajar tentang jatuh bangunnya seseorang dalam membangun sebuah bisnis. Salah satu topik yang akan kita bicarakan adalah jiwa bisnis ibu dan “Mami Pia and Cookies”, yang menginspirasi saya untuk mencoba menuliskan sedikit keberhasila pemilik kulier pia yang fokus pada bisnis cookies.

Anda pasti mengenal “Mami Pia and Cookies”. Kalau anda belum mengenal anda bisa mem-browsing diinternet tentang kuliner pia ini, termasuk kesuksesannya dalam membangun bisnis kuliner ini. Jatuh bangun dalam bisnis membuat saya tertarik untuk menggali lebih dalam tentang usaha pia yang dijalaninya. Dibalik usaha “Mami Pia and Cookies” ini terdapat “Wahyu Ellysabeth Yunita”, yang menjadi founder dari bisnis pia ini.

Menumbuhkan Jiwa Bisnis dari Bisnis Katering Sang Ibu

Mungkin bisa dikatakan beruntung bagi Neta, yang merupakan nama panggilan dari Wahyu Ellysabet Yunita, yang memiliki keluarga yang sudah memiliki bisnis katerng. Dengan adanya bisnis katering yang dimiliki ibunya, menjadikan Neta secara tidak langsung turut belajar dengan membantu ibunya untuk memasak sejak SMP. Dan jiwa bisnis yang ada pada dirinya pun mulai muncul.

Jiwa Bisnis Ibu dan “Mami Pia and Cookies”
Sumber gambar: wartabromo.com
Meskipun lahir dan berada dalam keluarga yang cukup, tidak membuat Neta, berleha-leha dan menikmat hasil jerih payah orang tuanya. Neta pun ikut berbisnis sejak kecil, kemampuannya berbisnis rupanya menurun dari ibunya yaitu Ibu Lilik Hartiningsih, yang sudah memiliki bisnis katering, yang berawal dari kesenangan dan hobi Ibu Lilik dengan memasak. Dengan kebiasaan memasak inilah yag menjadikan Neta kecil sering membantu ibunya memasak di dapur dan juga membantu usaha katering milik ibunya.

Tidak mudah memang, untuk memulai berbisnis, apalagi bisnis kuliner. Kebanyakan orang hanya melihat dari sisi enaknya berbisnis kuliner, apalagi saat bisnis tersebut laris, berhasil dan sukses, namun tidak melihat bagaimana usaha yag dilakukan dibalik proses membangun bisnis tersebut. Seperti Neta, di dapur ibunya, dia belajar membuat kue, mulai dari roti gulung, kue bluder, sampai dengan kue basah. Dengan keberanian dan tekadnya, Neta sejak kuliah sudah berani membuka usaha, sejak semester dua, saat masih kuliah di UPN, Neta berani membuka stand kue di JMP (Jembatan Merah Plaza) Surabaya.

Jiwa Wirausaha dan Tekad Membuka Usaha Cookies

Tekad dan keuletan, menjadi sebuah kata kunci yang harus dimiliki seseorang yang ingin memiliki sebuah usaha. Begitu juga denga Neta, setelah memiliki usaha kuliner berupa katering saat berumur 23 tahun. Pada umur 27 tahun, Neta kembali menekuni bisnis kuliner, mulai dari berjualan telur dan pada malam hari membuka usaha kuliner berupa Chineese Food di Ngoro Industri, Mojokerto.

Bahkan bisa dikatakan Neta cukup beruntung, karena sempat berkenalan dan bekerjasama dengan Inul Daratista dan bekerjasama dengan mengelola Inul Vista di Sutos (Surabaya Town Square). Pada tahun 2010, setelah anak pertamanya lahir, bisa karena insting dan jiwa bisnis yang dimiliki, menyebabkan Neta ingin berbisnis lagi, dengan bisnis katering dan juga menerima pesanan bakery. Tidak hanya bakery, Neta juga membuat kue pia yang juga dikerjakan warga Dusun Warurejo, Kejapanan.

Baca juga: Keputusan Konsumen dalam menentukan pembelian suatu produk.

Fokus. Mungkin kata ini sangat sesuai dengan yang dilakukan Neta, karea alasan sulit membagi pesanan antara pesanan bakery dan pesanan pia, akhirnya Neta fokus pada satu bisnis, yaitu bisnis pia. Pemilihan bisnis pia, dengan alasan:
  1. Pembuatan kue pia yang lebih mudah dibanding bakery.
  2. Kue pia lebih tahan lama.
Dengan mulai konsisten dan fokus pada kue pia, maka pada tahun 2010, Neta membuat brand pia dengan nama “Mami”. Pemilihan nama ini disebabkan rasa sayangnya pada ibunya. Pada sekitar 29 Februari 2012, Neta mematenkan brand “Mami Pia and cookies” sebagai merek dagang resmi pia produksinya.

Pengembangan Bisnis. Dengan fokus pada satu bidang usaha, maka bisnis “Mami Pia and Cookies”, menjadi semakin berkembang. Bahkan dengan berkembangnya usaha dan berkembangnya daerah tempat usaha pia, menjadikan Pemkab Pasuruan menyematkan nama “Kampung Pia” pada Dusun Warurejo,Desa Kejapaan, Gempol sekitar tahun 2012.

Berbicara tentang pengembangan dan mafaat yang diberikan pada masyarakat sekitar, maka dengan berkembangnya usaha, karyawan yang bekerja pada usaha ini juga semakin bertambah dari yang dulunya hanya 8 orang pada tahun 2010, berkembang menjadi 105 orang, dengan waktu kerja 2 shift, pagi dan malam hari.

Saat ini, untuk pemasaran, terdapat beberapa cabang yang bisa anda kunjungi untuk mendapatkan “Mami Pia and Cookies” , selain di ruman Neta, yaitu di Warurejo, juga terdapat cabang di pinggir jalan Raya Kejapanan, Gempol, Jala Arteri Kejapanan, Gempol juga cabang di Kota Surabaya, yaitu di Tama Apsari di depan Grahadi kota Surabaya.

Kata kunci:
#wirausaha
#berani
#tekad
#fokus
#konsisten
Share

Belum ada Komentar untuk "Jiwa Bisnis Ibu dan “Mami Pia and Cookies”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel